Rekam jejak JIP menangani perusahaan yang diakusisi, Olympus akan seperti ini juga…?

Masih banyak yang berharap dengan akuisisi JIP Olympus akan rebound dan kembali bisa berbicara banyak di ranah fotografi. Namun bukan berarti skeptis namun melihat kebelakang bagaimana rekam jejak JIP (Japan Industrial Partners) setidaknya memberikan gambaran bagaimana perkiraan yang bakal terjadi dengan Olympus

Majalah Photografix menyampaikan analisa kegiatan JIP, dalam banyak kasus JIP menjual kembali perusahaan yang telah mereka beli.

Beberapa contoh :

– SII Micro Parts Co., Ltd. (2003 – 2007)
– Rakuten KC Co., Ltd. (2004 – 2005)
– Laserfornt Technologies, Inc. (2004 – 2007)
– ITX Corp. (2012 – 2015)
– BIGLOBE, Inc. (2014 – 2016)
– VAIO Ltd. (2014 – ?)
– KM Aluminium Co., Ltd. (2015 – ?)

Berita yang menarik juga bahwa JIP pernah membeli divisi ponsel pintar Olympus ITX Corp tahun 2012 dan kemudian menjualnya kembali tahun 2015. Namun Photografix meyakini adanya peluang JIP akan memperlakukan Divisi Image Olympus seperti yang dilakukan terhadap Divisi Vaio : Menjadikan ramping, produksi outsourcing/alih daya untuk menghemat biaya. Kemungkinan Olympus masih memiliki sedikit saham di bisnis sini.

Kita tunggu saja….

Olympus gone, after 84 years

Merugi bertahun-tahun divisi imaging Olympus akhirnya nyerah dan dijual ke Japan Industrial Partner (JIP) sebuah perusahaan equitas yang pernah membeli divisi VAIOnya Sony. Namun hal ini bukan berarti kamera Olympus akan menghilang tiba-tiba namun perlu dilihat satu atau dua tahun kedepan apakah JIP akan berhasil melakukan recovery divisi imaging Olympus

Bagi saya justru menjadi pembelajaran bagi pabrikan kamera atau apa pun kalau mereka tidak mengikuti selera pasar, pada akhirnya brand akan kesulitan untuk bertahan. Sosial media telah banyak memberikan dampak ke industri kamera dan ponsel, nah kamera yang secara over all memang kurva nya terus menurun tergerus ponsel harus memainkan peranan lebih untuk memenuhi selera konsumen yang nota bene saat ini dihuni generasi milenial, artinya karena market milenial adalah sumber fulus harusnya Olympus membaca itu sehingga bisa bertahan.

Bagi saya pribadi nggak ada yang salah dengan produknya, yang justru tidak tepat adalah produk tidak dipahami oleh generasi yang saat ini banyak menggunakan produk tersebut. Lihat saja bagaimana pabrikan sekelas Canon pun berubah karena pasar tidak mampu mereka atur dengan produk mereka, sehingga menyesuaikan dengan selera pasar untuk bertahan adalah penting.

Saya belum pernah menggunakan Olympus namun melihat profesional yang menggunakan, saya sangat yakin Olympus sangat layak untuk dunia fotografi. Jadi bagi yang udah punya santai saja jangan khawatir, maksimalkan kemampuan alat sehingga sampai pada titik bahwa brand apa pun kamera yang dipergunakan bukan masalah.

Memutuskan untuk pindah kamera dengan sensor MFT

Yupss sobat teras belitong, lama tak posting dihinggapi penyakit malas he he biasalah blogger modal dewe jadi nggak kejar tayang, suka tulis, nggak suka tidurrr..!!! Kali ini saya akan berbagi cerita keputusan untuk berpindah brand kamera, bukan karena tak suka tetapi memang brand yang dipergunakan selama ini dipergunakan tidak memiliki sistem yang diinginkan akibatnya ya suka nggak suka pindah brand.
Mungkin bagi sebagian orang saya terkesan aneh, karena sudah pakai kamera dengan sensor full frame kok pindah ke kamera dengan sensor lebih kecil tepatnya micro four thirds (MFT). Namun secara pribadi saya punya alasan sendiri kenapa justru menggunakan kamera dengan sensor MFT

Alasan paling kuat adalah saya menggunakan kamera karena hobby fotografi, terutama genre landscape, sebenarnya tentu untuk mendapatkan fungsi maksimal ketika mengikuti genre ini memang kamera dengan sensor full frame adalah yang paling baik IMHO, namun satu hal yang membuat saya agak jengah dengan kamera dengan sensor FF adalah ukuran yang besar dan berat sehingga membuat saya mesti persiapan yang cukup ketika hendak melakukan sesi hunting sunrise dan sunset, pada awalnya memang tidak mengapa tetapi lama kelamaan merasa tidak praktis sehingga akhirnya niat hunting jadi malas akibatnya nggak produktif.

lanjut membaca…