Setting kamera mu sesuai kebutuhan mu

Kadang karena kurang pede menurut saya, seseorang sampai settingan kamera mesti nyontek setingan para master fotografi, nggak salah sih tapi buat apa, karena bagi yang punya settingan sih oke, tapi kalau kita kudu menyesuaikan dengan kebiasaan orang kalau saya sih nanti-nanti aja.

Yang penting dipahami adalah kita nyaman menggunakan kamera dengan pengaturan sendiri, referensi pengaturan untuk memperbaiki pengaturan kita atau menambah kenyamanan atas pengaturan yang kita miliki, jika tidak tinggalkan.

Bagi yang baru hendak belajar moto, yang mesti dipahami adalah fotografi sesuatu yang matematis, jadi tidak hanya intuisi namun pemahaman akan hal-hal teknis kamera perlu diketahui sehingga hasil foto bisa dioptimalkan.Karena memahami kamera sama hal dengan memahami senjata tempur, tahu mengoperasikan karena dengan benar, sama seperti paham mengoperasikan senjata perang yang kita miliki sehingga bisa menembak tepat sasaran dengan efektif dan efisien

Fotografi bukan melulu rasa, namun fotografi adalah eksakta, karena rasa baru akan bermakna ketika bekerja dengan sempurna, tak cukup indah tapi juga harus menggugah, tak cukup hanya hebat tapi harus memberi manfaat, sehingga rasa tanpa fakta adalah khayalan sempurna diruang hampa.

Mengendalikan Lumix GX85 dari Ubuntu

Aku mencoba mencari referensi atau cara untuk mengendalikan Lumix GX85 via Ubuntu, kalau via Windows atau MacOS tentu sangat gampang karena pabrikan kamera menyediakan dukungan. Nah di Linux amat jarang namun banyak pengguna Linux yang pinter dan bikin aplikasi untuk memudahkan pengguna lainnya, seperti aplikasi Lumix Link Desktop


lanjut membaca…

Rekam jejak JIP menangani perusahaan yang diakusisi, Olympus akan seperti ini juga…?

Masih banyak yang berharap dengan akuisisi JIP Olympus akan rebound dan kembali bisa berbicara banyak di ranah fotografi. Namun bukan berarti skeptis namun melihat kebelakang bagaimana rekam jejak JIP (Japan Industrial Partners) setidaknya memberikan gambaran bagaimana perkiraan yang bakal terjadi dengan Olympus

Majalah Photografix menyampaikan analisa kegiatan JIP, dalam banyak kasus JIP menjual kembali perusahaan yang telah mereka beli.

Beberapa contoh :

– SII Micro Parts Co., Ltd. (2003 – 2007)
– Rakuten KC Co., Ltd. (2004 – 2005)
– Laserfornt Technologies, Inc. (2004 – 2007)
– ITX Corp. (2012 – 2015)
– BIGLOBE, Inc. (2014 – 2016)
– VAIO Ltd. (2014 – ?)
– KM Aluminium Co., Ltd. (2015 – ?)

Berita yang menarik juga bahwa JIP pernah membeli divisi ponsel pintar Olympus ITX Corp tahun 2012 dan kemudian menjualnya kembali tahun 2015. Namun Photografix meyakini adanya peluang JIP akan memperlakukan Divisi Image Olympus seperti yang dilakukan terhadap Divisi Vaio : Menjadikan ramping, produksi outsourcing/alih daya untuk menghemat biaya. Kemungkinan Olympus masih memiliki sedikit saham di bisnis sini.

Kita tunggu saja….

Olympus gone, after 84 years

Merugi bertahun-tahun divisi imaging Olympus akhirnya nyerah dan dijual ke Japan Industrial Partner (JIP) sebuah perusahaan equitas yang pernah membeli divisi VAIOnya Sony. Namun hal ini bukan berarti kamera Olympus akan menghilang tiba-tiba namun perlu dilihat satu atau dua tahun kedepan apakah JIP akan berhasil melakukan recovery divisi imaging Olympus

Bagi saya justru menjadi pembelajaran bagi pabrikan kamera atau apa pun kalau mereka tidak mengikuti selera pasar, pada akhirnya brand akan kesulitan untuk bertahan. Sosial media telah banyak memberikan dampak ke industri kamera dan ponsel, nah kamera yang secara over all memang kurva nya terus menurun tergerus ponsel harus memainkan peranan lebih untuk memenuhi selera konsumen yang nota bene saat ini dihuni generasi milenial, artinya karena market milenial adalah sumber fulus harusnya Olympus membaca itu sehingga bisa bertahan.

Bagi saya pribadi nggak ada yang salah dengan produknya, yang justru tidak tepat adalah produk tidak dipahami oleh generasi yang saat ini banyak menggunakan produk tersebut. Lihat saja bagaimana pabrikan sekelas Canon pun berubah karena pasar tidak mampu mereka atur dengan produk mereka, sehingga menyesuaikan dengan selera pasar untuk bertahan adalah penting.

Saya belum pernah menggunakan Olympus namun melihat profesional yang menggunakan, saya sangat yakin Olympus sangat layak untuk dunia fotografi. Jadi bagi yang udah punya santai saja jangan khawatir, maksimalkan kemampuan alat sehingga sampai pada titik bahwa brand apa pun kamera yang dipergunakan bukan masalah.

Membandingkan dua kamera, apa yang menjadi acuan…?

Saya sering ditanya sama teman-teman, kamera A dan B bagus yang mana..? Pertanyaan umum seperti itu jujur sangat sulit untuk menjawabnya karena saya tidak mengerti apa kebutuhan sang teman secara spesifik atau sederhananya dia cari kamera buat apa, buat foto kah atau lebih banyak video, banyak dipakai waktu siang atau malam, trus budget yang hendak dikeluarkan berapa, sehingga saya sering menjawab, keduanya bagus tergantung kebutuhan teman.


lanjut membaca…

Kapan kamera punya AI secanggih ponsel..?

Asik kali ya kalau kamera kompak seperti Sony RX100 VII punya AI secanggih Huawei P30 he he he, bakal hantjurrr lebhurrr dunia perkameraan kali ya he he. Yup harusnya sih bisa banget lah, coba juga kalau Huawei bikin kamera dengan AI secanggih Ponsel mereka Huawei P30 Pro, toh makin asyik dan menimbulkan pengalaman baru.

lanjut membaca…

Benarkah kamera full frame hanya lebih di sensor saja..???

Jujur saja sebagai orang yang awam pada awalnya dengan kamera DSLR, saya pertama selalu mencari referensi dari Internet dan tulisan-tulisan fotografer kawakan mengenai kamera, lensa, komposisi dan sebagainya.
Salah satu kalimat yang terngiang-ngiang sampai saat ini adalah pernyataan mengenai sensor kamera DSLR fullframe dan APS-C yang hanya dibedakan dengan bahasa sederhana dan lugas yaitu cuma seperti beda nonton TV ukuran 40″ dan 32″, just simple like that…!!!

lanjut membaca…