Menyiasati hegemoni matik

Hegemoni matik saat ini jelas sudah tidak tertandingi, boleh dikatakan mirip internet lah yang sudah menjadi aspek kehidupan, matik adalah aspek bertransportasi yang praktis dan hemat. Menurut ku ini nggak bisa dilawan, waktunya matik diatas, pabrikan ya kudu create matik yang memenuhi selera konsumen.

Nah pernyataannya bagaimana dengan segmen yang tergerus oleh matik, bagaimana harus bertahan..? Seperti halnya dengan yang telah tergerus internet, bagaimana mereka bertahan, begitu pula dengan segmen yang digerus oleh matik, cara bertahannya adalah diferensiasi. Segmen yang banyak diambil oleh matik adalah cub alias bebek, pabrikan melakukan inovasi dengan menghadirkan bebek super bagi yang ingin performa like sport tetapi tidak menyenangi gaya macho motor sport.
Namun hasilnya tidak maksimal karena memang segmennya terbatas, sehingga efeknya lebih kepada branding saja, sedang segmen yang memang memberikan fulus signifikan di masa lalu tetap tak tersentuh.

Memang tidak akan kembali seperti dahulu namun pabrikan dapat membuatnya menjadi pilihan yang unik sehingga memiliki pengguna setia pada akhirnya.

Contoh sederhana jika Honda merilis supercub ini di Indonesia untuk menjadi entry level cub, artinya mirip dengan entry level matik, yang harganya akan terjangkau oleh kebanyakan orang, dan akan menjadi pilihan sulit, tapi masih tetap berada dalam satu brand.

Selain itu juga motor dengan desain everlasting ini akan membuat basis komunitas baru di usia konsumen tua muda, yang muda memiliki pengalaman baru dengan cub yang mengedepankan lifestyle sedangkan yang tua akan mendapatkan memori masa lalu mereka di saat muda.

Menurut aku pabrikan seperti Honda patut mencobanya, alih alih mendatangkan(impor) Super cub yang mahal, mereka dapat menambahkan varian baru Revo dengan genre retro yaitu Revo SuperCub, dengan pricing yang tidak terlalu tinggi.

Mau nggak ya Honda..???

Matik kecil dan Big Bike

Just it. Yap saya mengalami pergeseran selera motoran. Sekarang untuk daily use lebih senang matik kecil 100cc an cukuplah, karena memenuhi kebutuhan praktis, irit dan gampang perawatannya. Udah malas nyobain atau mikiran matik body gede seperti Nmax maupun PCX, juga males yang body nanggung macam Vario, GT. Pingin yang kecil macam beat, mio, nex. Dan pilihan jatuh ke Beat


lanjut membaca..

Next.. harusnya 2020 AHM implementasikan eSP+ di kelas 150cc

Setelang ngomongin All New Beat, jujur saja mesin 150cc matik Honda masih kurang ngenjengat jika dibandingkan 155cc VVA Yamaha. Masalah yang banyak ditemui user Yamaha 155cc saat beralih ke Honda 150cc rata-rata menemukan gredek-gredek saat akselerasi awal, tentu hal ini sangat mengganggu walau ada solusi, namun di motor Yamaha mereka hal ini tidak terjadi.


lanjut membaca…

Kalau gue jadi Alberto Puig

Ha ha ini angan2 yang jauhh dari kesampaian, kelas nya beda jauh hebatan Alberto Puig, cuma saya base on pengamatan dari tayangan motoGP aja he he, namun boleh lah saya perpendapat di blog pribadi gue.

Pic. Respol Honda

Seperti yang saya tulis sebelumnya mengenai pengunduran Jorge Lorenzo di sini salah satu yang menjadi menarik adalah siapa team mate nya MM93 di HRC tahun 2020 nanti.
lanjut membaca…