Di Belitong – Apakah Spacy dipilih karena fitur AHO ???

Setelah melihat penampakan untuk pertama kalinya.. dan telah dituangkan pada tulisan di sini . Maka sejak pertengahan Juni 2011 saya mulai menemui beberapa Spacy ngaspal di Aspal Belitong, yang asyik ternyata Spacy justru lumayan banyak ditemui di jalanan arah tempat Wisata Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi, slruuuppp juga nihh, kirain fitur AHO akan jadi beban dan membuat orang jadi enggan memilih eee… ternyata tidak … Penasaran ane coba untuk berkomunikasi dengan penyemplak Spacy untuk mengetahui alasan mereka memilih Spacy

Spacy HijauDari hasil survey secara Random kebanyakan responden memilih Spacy karena desain yang Freshh terlepas dari nama besar Honda…!!! Sehingga memang perubahan dan pembaharuan desain dari suatu produk R2 sangat perlu dilakukan oleh Pabrikan baik untuk mendongkrak penjualan maupun mempertahan market Share yang telah ada.

Yang menarik pada fitur AHO, pengguna tidak keberatan terhadap fitur tersebut, bahkan ada yang berselorohh kalau mereka nggak khawatir  lagi lupa ngidupin lampu. Sehingga dapat diambil hikmah bahwa jika regulasi memang sudah merupakan suatu tuntutan harusnya ATPM langsung mengaplikasikan ke produk mereka dan jangan lupa Pemerintah selaku regulator juga mestinya menstimulus dengan memberikan insentif berupa kemudahan seperti yang pernah saya tuliskan di sini

Just My Simple Opinion..!!!

Penerapan Regulasi Oleh Pabrikan, mesti diberi Apresiasi

Dalam pasar roda dua, perubahan sedikit saja, bisa menjadikan pabrikan mesti hati-hati dalam menerapkannya dan mengkomunikasikan nya kepada konsumen.. Jika salah komunikasi dan kompetitor memberikan opsi maka bisa berpengaruh pada prospek bisnis produk tersebut.

Misalkan saja penerapan fitur Automatic Headlamp On a.k.a AHO a.k.a DRL terlihat walaupun sudah cukup lama UU Lalulintas no 22 tahun 2009 hadir tetapi penerapan penyalaan lampu utama pun belum terlihat dilaksanakan dengan maksimal.

Semua ini mesti didukung oleh semua pihak baik Pemerintah selaku regulator, maupun eksekutor, Pabrikan R2 selaku penyedia sarana, maupun konsumen selaku pengguna fasilitas dan objek dari UU tersebut.

Yang terbaik dari suatu aturan adalah pelaksanaan nya dilakukan atas kesadaran penuh pengguna dan pemakai aturan tersebut, sangat ideal namun hal ini memerlukan waktu untuk membuat orang perorang menjadi sadar dan taat aturan.

Cara  tergampang adalah langsung by design produk sudah comply dengan aturan yang ada, sehingga suka nggak suka aturan sudah jalan, misalkan saja, penerapan AHO, dengan desain standar pabrik yang memang sudah otomatis AHO maka kesadaran yang selama ini diharapkan telah terganti dengan penerapan dari Pabrik.

Disinilah letak keseragaman yang perlu dilakukan oleh Pemerintah selaku regulator, untuk menstimulus pabrikan roda dua mengeluarkan produk yang telah sesuai dengan standar aturan perundang-undangan yang berlaku.

Memang tidak dengan stimuluspun dapat dilakukan namun ujung-ujungnya juga hukuman bagi pengguna produk, semisal pasal 293 UU LAJ No 22 Tahun 2009 mengenai penyalaan lampu Utama Sepeda Motor pada Siang hari, namun alangkah eloknya jika koridornya tidak menghukum rakyat sendiri tetapi membuat rakyat nyaman dengan menstimulus semua pabrikan roda dua untuk memproduksi kendaraan dengan fitur AHO a.k.a DRL by default.

Just My Simple Opinion