Dominasi Spaniard di Jerez, Lorenzo podium

Seri Jerez Spanyol 2017 baru saja usai, keseruan dan kejutan terjadi kali ini, pembalap Yamaha Factory , Valentino Rosi dan Maverick Vinales harus mengakui keunggulan pembalap satelit Yamaha Johan Zarco. Menarik sekali, Yamaha M1 yang memang sebenarnya digadangkan berpeluang besar di tahun 2017 untuk menjadi juara dunia terlihat kesulitan menghadapi Honda bahkan Ducati sekalipun.

Dani Pedrosa yang dari sesi latihan mendominasi, pada seri ini mendapatkan pol posisi, pol posisi pertama sejak terakhir diperolehnya di Sepang 2015.
lanjut membaca…

Kenapa Kawasaki nggak mau main di Sport 150cc..???

Pertanyaan besar bagi TB dan juga pastinya penyuka motor lainnya. Bagaimana tidak, siapa penyuka motor sport 150cc yang gak kenal dengan kehebatan Kawasaki Ninja 150cc, motor dua tak ini menjadi legenda dan sampai saat ini masih memiliki value yang tinggi di kalangan anak muda. Namun sayang ketika pasar 2 tak semakin terkikis Kawasaki tidak mentransformasikan Ninja 2 Tak 150cc menjadi Ninja 4 tak 150cc. Kenapa…???

Sekarang semua bisa punya Ninja #semuabisapunyaninja

A post shared by Kawasaki Motor Indonesia (@kawasaki_indonesia) on

Tentu yang lebih tahu adalah pihak Kawasaki sendiri, namun dalam pengamatan TB kenapa Kawasaki nggak mau bermain di kelas 150cc 4 tak, jelas lebih kepada hitung-hitungan bisnis saja, karena mereka (Kawasaki) akan bertarung pada segmen dimana raksasa bercokol, jelas ini perlu effort yang kuat, mulai dari dana sampai promosi, pada segmen ini karena pasarnya lumayan baik, jelas pertarungan sangat sengit, Honda, Yamaha sudah memiliki basis produk yang memang sudah terbukti disegmen ini, sehingga Kawasaki masuk harus dengan effort besar dan untung kecil,bagaimana tidak karena penghuni segmen ini telah memiliki produk yang mature.
Kawasaki butuh riset untuk mendapatkan produk yang memenuhi, jargon ninja mereka, bisa dibayangkan kalau produk dengan jargon ninja mudah keok dibuat oleh kompetitor, jelas akan mempengaruhi imej produk yang berperforma tinggi pada brand Kawasaki.
Nah tentu keputusan ini bukan perkara mudah, sehingga perlu dibuatkan exit strategi bagi pencinta Kawasaki, apa, logika sederhana dilakukan jika dengan harga lebih sedikit dari ninja 2 Tak 150cc bisa memperoleh produk 250cc yang performanya juga mirip namun secara branding lebih kuat kenapa nggak main di 250cc saja, dan akhirnya keluarnya Ninja 250SL, sayangnya ekspektasi konsumen bedahhh cuyyy, harga bikin produk ini jadi melempem.

Nahhh karena nggak laku bisa saja terjadi stop produksi atas produk tersebut, akibatnya untuk menghabiskan produk yang menumpuk perlu stimulus, yaaa dengan jargon #semuabisapunyaninja tentu akan terjadi penawaran yang menarik untuk produk Kawasaki yang slow moving.

Nah kesalahan strategi ini harus dibayar mahal oleh Kawasaki tentunya, suka nggak suka, selera pasar adalah sumber informasi yang tepat untuk bisa masuk ke pasar yang ada, sooo jangan coba melawan jika nggak mau tekorrr…!!!

Impresi menggunakan lensa EF-M 22mm

Pada tanggal 29 April 2017 TB membeli lensa canon EF-M 22mm di salah satu toko kamera didaerah tanah abang Jakarta, lho kenapa..??? Bukankah lensa standarnya 18-55mm punya focal lenght 22mm ..??? Baiklah beberapa pertimbangan TB lakukan pertama adalah, lensa EF-M 22mm relatif tipis saat dipasang di kamera, hanya setebal 1cm lebih, sehingga kalau dibawa bawa kesannya tidak mengintimidasi yang melihat alias low profile jauh dari kesan seriusss… sehingga bagi TB ini menguntungkan saat pengambilan foto, subyek akan merasa tidak di foto akibatnya ekspresi dari objek yang difoto akan terlihat natural.

Asikk sihh, seperti apa hasil fotonya …??? Berikut foto-foto yang TB foto dengan lensa EF-M 22mm dan EOS-M

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Menurut TB lensa ini worth to buy lah terutama kalau yang suka traveling sambil mengambil foto, EF-M kompatibel dengan semua kamera EOS-M Canon dari mulai generasi EOS M pertama sampai ke EOS M6.

All New Vixion… apa saja yang signifikan ???

Perkiraan peluncuran All New Vixion 2017 oleh Yamaha mengemuka pada tanggal 27 April 2017. Hal yang wajar menurut TB sih karena produk baru biasanya memanfaatkan berbagai moment keagamaan, yupp menjelang puasa dan lebaran nggak salah kalau pabrikan melakukan strategi pasar dengan peluncuran produk baru untuk menjawab demand sesaat yang akan muncul saat moment perayaan keagamaan tersebut.
Namun sebagai produk yang merajai pasar TB melihat perlu menilik dan menganalisa apa saja sih yang bakalan dihadirkan oleh All New Vixion 2017. Tentunya ini sebagai jawaban atas berhasilnya produk kompetitor Honda CB150R mengganggu singasana penguasaan pasar yang selama ini dikuasainya.

New Vixion harus punya killing puch untuk bisa membungkam kompetitor, nahhh adakah hal itu..??? Kalau menurut TB New Vixion 2017 akan mengambil basis mesin yang sama dengan Yamaha R15 2017 dengan engine SOHC 155 VVA, artinya Yamaha NV 2017 akan memiliki performa diatas kompetitornya.

lanjut membaca…

Yamaha QBIX boleh juga tuh…!!!

Salah satu penyebab mandulnya Yamaha di pasar matik nasional karena mereka sering mengabaikan apa yang menjadi selera masyarakat dan berpuas diri dengan apa yang telah dicapai. Lihat saya saat Scoopy keluar alih alih membuat produk tandingan Yamaha menyatakan produk retro seperti scoopy tidak cocok dengan masyarakat Indonesia.
Akibatnya ya sudah dilihat, saat Honda dengan pedenya meluncurkan Scoopy, dan pada faktanya Scoppy berhasil memberikan kontribusi yang cukup untuk menopang market share sehingga berhasil menjungkalkan Yamaha. Langkah counter Yamaha pun akhirnya berhasil menelurkan Yamaha Fino. Namun karena merupakan produk pengekor mengakibatkan produk menjadi tidak terlalu moncer di pasar.

Ini harusnya menjadi pelajaran bagi Yamaha, karena itu nggak boleh lengah kudu gerak cepat dan sebagai first mover. Lihat kasus Nmax harusnya ini menjadi daya dorong betapa dahsyatnya sebagai first mover. Soo untuk eksis Yamaha kudu harus mengeluarkan produk produk yang inovatif buat konsumen.
lanjut membaca…

AHM Rilis warna baru CBR150R

Seolah tidak perduli dengan hiruk pikuk performa sport fairing kompetitor yang de facto melibas sport fairing besutan Honda, Honda tetap on track pada master plan sport fairing 150cc mereka. Ini dibuktikan dengan dirilisnya striping baru CBR150R yang nota bene nggak ada perubahan performance sedikit pun.

Kepedean Honda ini menarik menurut TB karena duo kompetitor baik Suzuki maupun Yamaha telah merilis produk baru mereka dengan performa diatas CBR, pertanyaannya apakah AHM merasa nyaman dengan kondisi ini ataukah ini hanya kamuflase saja sebelum dirilisnya produk yang lebih advance.

lanjut membaca…

Honda rilis warna baru Supra GTR150

Ndak terasa memang, ternyata AHM sudah melakukan rilis update minor terhadap Supra GTR150. Motor cub dengan genre touring ini memang belum mendapat update sejak dari awal pertama peluncurannya. Soo nggak heran dilakukan pengubahan warna motor, apa lagi kalau bukan pingin nyegerin penampilan sehingga membuat animo konsumen kembali naik.

Tiga warna baru adalah Spartan Red, Nitric Orange, dan Gun Black. Spartan Red dan Nitric Orange ditujukan untuk memberikan kesan sporty sedangkan Gun Black memberikan kesan ekslusive.

lanjut membaca…

CBR250RR menunjukkan performanya di ARRC seri pertama 2017

Dua jempol buat CBR250RR, wajar kalau penulis menganugrahi Bike of The Year 2016, tanpa banyak menunggu pada seri ke 1 ARRC 2017 kelas AP250 CBR250RR langsung naik podium pertama pada balapan pertama hari Sabtu 01 April 2017 dan Race ke 2 Minggu 02 April 2017 dengan rider Gerry Salim, CBR250RR berhasil menunjukkan performanya.

lanjut membaca…

EOS M mirrorless yang cukup asyik

Kalau bicara kamera Miroless jelas EOS M memang bukan pilihan yang menarik, generasi pertama Mirorless Canon ini kalau buat foto pengalaman penulis memang bikin keki dengan autofocusnya. Namun memang kondisinya seperti itu namun bukan berarti kamera ini bikin jutek he he nggak sama sekali. Ukuran nya yang enak dibawa traveling membuat kamera ini menjadi sahabat penulis setiap kali melakukan perjalanan keluar pulau Belitung.

Menurut saya hasil fotonya pun dalam pandangan awam penulis tidak lah mengecewakan. Mounting lensa EOS adalah EF-M, jika sudah memiliki lensa EF tidak perlu khawatir lensa tersebut tetap dapat kita pergunakan dengan menggunakan mount adapter EF-EOS M. Semua fungsi seperti Autofocus tetap dapat berfungsi saat menggunakan mounting ini.

Penulis menggunakan adapter ini saat menggunakan lensa EF. Kapan lensa EF penulis gunakan, biasanya saat memerlukan manual fokus seperti memoto bintang, atau foto foto yang menggunakan shutter speed lambat dan memerlukan manual fokus.

lanjut membaca…