Pertarungan tinggal di segmen sport

Pasar roda dua Indonesia sudah dapat dipastikan sudah didominasi oleh Honda, suka nggak suka Honda menyadari betapa pentingnya potensi pasar roda dua Indonesia, sehingga segala upaya terus mereka lakukan, pasar gemuk segmen matik berada dalam cengkraman Honda secara masif, potensi untuk lepas secara langsung akibat kelengahan Honda sulit untuk terjadi.

17YM CRF250 Rally

Pasar yang masih bergejolak apalagi kalau bukan segmen sport, lihat saja usaha masif Honda, merilis CBR250RR, merilis CRF250R, merilis CRF150L dan langkah-langkah selanjutnya berupa update produk yang sudah ada dipasaran. Hal ini jelas menunjukkan secara kasat mata, bahwa Honda merasa belum aman di segmen sport, belum semua lini mereka masuki, dan jelas potensinya masih bisa untuk menambah market share mereka.

Sayangnya pabrikan lain yang sedang diserang oleh Honda dan pabrikan lain yang memiliki potensi, masih asyik dengan rencana masing masing pabrikan. Usaha mendikte pasar masih sering dilakukan pabrikan yang relevansinya udah nggak relevan lagi di zaman NOW…!!! Langkah yang paling gampang melihat potensi adalah seperti yang dilakukan Honda, melihat segmen off on road mateng, masukkkk… lakukan ATM, A mati T iru M odiifikasi, nggak kreatif…??? Ukuran kreatifitas menurut TB bukan begitu, kalau berhasil menarik minat pasar dan laris manis, nahh itu yang dicari, jualan kok, dikatakan kreatif tapi nggak bisa laku ya percuma juga coiii…!!!

Segmen sport relatif sulit ditundukkan dengan strategi pada segmen matik, ya…!!! Sport punya loyalis nggak hanya sisi praktis, mengingat harga produk yang relatif lebih tinggi, dan kumpulan pertemanan melalui komunitas yang kuat brotherhoodnya, jelas membuat segmen sport nggak bisa instan dikuasai di saat ini. Contoh CBR250RR yang memang overall ok namun komunitas kompetitor udah lama, soo nggak bisa cepat lahh … perlu waktu… yang justru harus dikejar ya… new customer yang harus well educated sehingga bisa pilih produk yang memang lebih fresh dan baru.

Sama juga dengan usaha Honda masuk ke segmen off on road dengan CRF150L jelas nggak bisa cepat karena memang segmen ini sudah mateng dikuasai oleh Kawasaki, dengan komunitasnya jelas perlu waktu dan perjalanan yang relatif panjang untuk menguasainya. Yang pasti better support ke komunitas diperlukan oleh pabrikan untuk mengambil hati komunitas.

Seperti apa hasilnya, menarik yahh, TB selalu mengamati dan mencoba menganalisa kemungkinan kemungkinan yang terjadi bro, nantikan tulisan TB di blog ini terus yahhh…!!!

Iklan

Motor sport 150cc nggak melulu harus eye catching ..!!!

Motor dengan desain eye catching akan memperoleh respond positif dalam hal penjualan…??? Bisa iya bisa tidak, namun dalam banyak hal desain bukanlah segalanya, namun harus bersinergi dengan banyak hal untuk menghasilkan penjualan yang baik untuk produk dengan katagori produk masal…!!! Kalau lihat pasar India, beda lagi yang menjadi acuan adalah ketangguhan, durabilitas, desain menjadi subjektif, mungkin kebanyakan desain motor di India bakalan dicemoohkan ketika masuk ke Indonesia.

Desain adalah hal pertama yang menjadi penarik minat konsumen, namun desain bukan lah hal yang membuat keputusan konsumen membeli, karena pada motor 150cc jelas konsumennya akan berbeda pengambilan keputusannya dengan motor berkubikasi diatas 500cc, motor 150cc adalah motor all around bukan motor pajangan seperti motor dengan kubikasi diatas 500cc.

lanjut membaca…

Pasar second CBR250RR

TerasBelitong.com – Setelah CBR250RR diluncurkan kemudian bisa memberikan penjualan yang bagus bagi Honda, ada hal yang menarik yang selalu pengen TB awasi, apalagi kalau bukan bagaimana harga seken motor ini, terjadi penurunan drastis nggak atau penurunan harga yang relatif wajar sehingga worthed untuk menjadi produk pilihan bagi yang suka tukar tukar tunggangan.

Dari surfing kesalah satu online shop ternama di Indonesia, mencari CBR250RR relatif agak susah, namun tetap ada yang mau jual sihh, tetapi harga yang ditawarkan relatif masih tinggi. Artinya memang CBR250RR mengena di hati konsumen Indonesia. Sehingga tidak muncul kekecewaan saat sudah memilikinya artinya kans untuk segera menjual karena merasa salah beli ternyata cukup minim jika melihat barometer pasar seken roda dua online di Indonesia.

Nah bagaimana kedepannya…??? Tentu data bisa berubah dengan beberapa sebab, bisa saja kompetitor menawarkan produk yang lebih kompetitif. Namun dengan barometer ini menunjukkan Honda harus bisa membuat produk lain yang masterpiece seperti CBR250RR, terutama di segmen matik. Walaupun kuat di matik Honda belum punya masterpiece matik yang terjangkau untuk pasar Indonesia.

Kenapa Kawasaki nggak mau main di Sport 150cc..???

Pertanyaan besar bagi TB dan juga pastinya penyuka motor lainnya. Bagaimana tidak, siapa penyuka motor sport 150cc yang gak kenal dengan kehebatan Kawasaki Ninja 150cc, motor dua tak ini menjadi legenda dan sampai saat ini masih memiliki value yang tinggi di kalangan anak muda. Namun sayang ketika pasar 2 tak semakin terkikis Kawasaki tidak mentransformasikan Ninja 2 Tak 150cc menjadi Ninja 4 tak 150cc. Kenapa…???

Sekarang semua bisa punya Ninja #semuabisapunyaninja

A post shared by Kawasaki Motor Indonesia (@kawasaki_indonesia) on

Tentu yang lebih tahu adalah pihak Kawasaki sendiri, namun dalam pengamatan TB kenapa Kawasaki nggak mau bermain di kelas 150cc 4 tak, jelas lebih kepada hitung-hitungan bisnis saja, karena mereka (Kawasaki) akan bertarung pada segmen dimana raksasa bercokol, jelas ini perlu effort yang kuat, mulai dari dana sampai promosi, pada segmen ini karena pasarnya lumayan baik, jelas pertarungan sangat sengit, Honda, Yamaha sudah memiliki basis produk yang memang sudah terbukti disegmen ini, sehingga Kawasaki masuk harus dengan effort besar dan untung kecil,bagaimana tidak karena penghuni segmen ini telah memiliki produk yang mature.
Kawasaki butuh riset untuk mendapatkan produk yang memenuhi, jargon ninja mereka, bisa dibayangkan kalau produk dengan jargon ninja mudah keok dibuat oleh kompetitor, jelas akan mempengaruhi imej produk yang berperforma tinggi pada brand Kawasaki.
Nah tentu keputusan ini bukan perkara mudah, sehingga perlu dibuatkan exit strategi bagi pencinta Kawasaki, apa, logika sederhana dilakukan jika dengan harga lebih sedikit dari ninja 2 Tak 150cc bisa memperoleh produk 250cc yang performanya juga mirip namun secara branding lebih kuat kenapa nggak main di 250cc saja, dan akhirnya keluarnya Ninja 250SL, sayangnya ekspektasi konsumen bedahhh cuyyy, harga bikin produk ini jadi melempem.

Nahhh karena nggak laku bisa saja terjadi stop produksi atas produk tersebut, akibatnya untuk menghabiskan produk yang menumpuk perlu stimulus, yaaa dengan jargon #semuabisapunyaninja tentu akan terjadi penawaran yang menarik untuk produk Kawasaki yang slow moving.

Nah kesalahan strategi ini harus dibayar mahal oleh Kawasaki tentunya, suka nggak suka, selera pasar adalah sumber informasi yang tepat untuk bisa masuk ke pasar yang ada, sooo jangan coba melawan jika nggak mau tekorrr…!!!

Beli motor Eropa cc kecil… Nggak lahhh kalau sekarang…

Jagad blogsphere sedang dihebohkan dengan penurunan harga KTM baik RC seriess maupun duke series, memang sangat-sangat lah menarik, yahh nama motor Eropa tentu semua sudah tahu standar kualitas mereka, no spec down..!!! Nggak maen maen dalam menggelontorkan produk broo…

2012-KTM-200-Duke-Front-Right

Namun walau dengan segala kelebihannya, bagi TB yang secara finansial terbatas, yahh mikir mikir dulu lah untuk membelinya. Kenapa..??? TB sangat mengkhawatirkan aftersales, maklum motor akan menjadi teman aktifitas sehari-hari. Buat kerja, jalan, maenn dsb dsb, nahhh yang pasti potensi kerusakan tentu akan tinggi, lantas bagaimana dengan suku cadangnya…??? Ketersediaan jika ada.. mahal nggak, truss ada yang dibuat oleh pihak ke 3 nggak..??? Ini bagian yang menjadi pertanyaan TB yang kantong nya tifisss dalam membeli produk. Kalau banyak duit sihh nggak mikir begini he he he.
Bagi TB produk Jepang lebih make sense, bukan apa-apa, produk Jepang memang dibuat untuk memahami iklim dan kondisi finansial kebanyakan konsumennya, iklim Indonesia yang memiliki kelembaban tinggi jelas berbeda dengan iklim Eropa, sehingga produk Eropa di Indonesia perlu banyak penyesuaian lahhh. Nah produk Jepang mau merk apapun, memang sudah memahami situasi dan kondisi iklim Indonesia. Sehingga jauh lebih reliable.

Sooo ini pendapat TB, kalau pembaca tetap mau Beli yahh ndak apa-apa… itung-itung ada yang uji coba sebelum TB nggak bisa lagi nahan keinginan membeli produk Eropa he he he