Nyetrit sambil ngopi di Manggar kota seribu warung kopi

Manggar adalah ibu kota Kabupaten Belitung Timur, dari dulu terkenal dengan kebiasaan unik masyarakatnya sehingga membuat warung kopi tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Kebiasaan ngopi ke warung kopi walau pun di rumah bisa membuat sendiri, bahkan saat menjamu tamu yang sudah akrab saat berkunjung kerumah.


Minggu 7 Maret 2020, saya menyempatkan diri bersama anak dan istri berangkat ke Manggar, tidak ada tujuam khusus, namun bagi saya adalah untuk mengasah skill fotografi saya. Perjalanan memakan waktu satu jam lebih sedikit, saat saya tiba suasana di kota manggar relatif ramai, berbeda ketika saya berkunjung beberapa waktu lalu yang sepi ketika di hari Minggu.

Sesampai di Manggar kami segera mencari warung kopi, nah tujuan kali ini sengaja saya mengarah ke dekat pasar Lipat Kajang Manggar dan berhenti di dekat sebuah warkop dengan Nama Kongfu, saya pikir mungkin masih saudara dengan warkop Kongjie di Tanjungpandan.

Terlihat warkop nya sepi, di teras depan hanya satu orang sedang ngopi, di sisi dalam kosong, saya pikir di sini saja, eh ternyata salah, disisi barat warkop ada juga teras berbatasan dengan gang, di sinilah majelis perngopian kongfu sedang berlangsung.

Warung kopinya sendiri, cukup bersih dan sederhana, saya pun memesan kopi susu dan istri memesan es teh manis. Rasa kopi susunya enak, suasana warung yang bersih dan angin bertiup semilir membuat saya betah berlama-lama di warkop ini. Oya di sekitar Warkop Kongfu juga ada banyak warkop seperti warkop Angie, warkop Atet, Raja Kopi, Warkop Ayung.

Warkop Kongfu juga menjual bubuk kopi dengan nama Super Kopi, rata kopi yang beredar di Manggar merupakan kopi asal lampung yang di roasting di Jakarta kemudian digiling di Manggar.

Saat membayar saya berkesempatan ngobrol sama ibu pemilik warung kopi, ternyata usaha warung kopi sudah di mulai sejak tahun 1971 saat beliau menikah, menarik sekali. Karena di Manggar usia warung kopi banyak yang udah puluhan tahun ada Warkop Atet yang sudah ada sejak tahun 1949

Artinya Manggar punya potensi untuk mengembang wisata budaya dan sejarah warung kopi, artinya saat berkunjung ke Manggar tidak hanya berhenti ngopi dan melanjutkan perjalanan tanpa ada bekas cerita yang bisa jadi kenangan.
Beragam pemilik dan tidak di dominasi oleh satu nama merupakan nilai plus yang bisa diolah oleh pemangku kepentingan pariwisata di Manggar, kalau saya mengusulkan Manggar punya Plaza Kopi yang beberupa taman dengan dilengkapi diorama sejarah budaya dan budaya ngopi di Manggar. Letaknya tidak jauh dari warkop-warkop legend di Manggar – Belitung Timur. Di kawasan kota tua Manggar mungkin tepatnya.
Di tengah gempuran Kongdjie di Tanjungpandan, harusnya Pemerintah Kabupaten Belitung Timur dapat segera berbenah dan membuat suatu gebrakan yang memiliki nilai lebih sehingga berkunjung ke Manggar bagi wisatawan bukan sekedar lewat dan merasakan kopi Manggar namun lebih kepada menyaksikan perjalanan sejarah turun-temurun budaya ngopi di Manggar yang berhasil menginspirasi banyak orang.

Yuk Ngupi ke Manggar….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s