Ketika akulturasi menjadi sempurna : fanngin thongngin jit jong

Kalau berbicara pembauran yang sempurna atau boleh dikatakan mendekati sempurna, mungkin Pangkalpinang dan pulau Bangka merupakan salah satu tempat yang memang boleh dikatakan layak menjadi role model bagi kebersamaan antara etnis pribumi(fanngin) dan keturunan (thongngin).

IMG_20160717_205447

Jangan heran kalau Anda berkunjung ke Pangkalpinang, kalau kehidupan antara etnis pribumi dan keturunan tidak ada sekat yang membedakan. Hal ini terlihat jelas dalam komunikasi keseharian masyarakat Pangkalpinang khususnya dan pulau Bangka umumnya. Bahasa yang menyatu merupakan cermin tidak adanya perbedaan antara mereka. Sungguh anugrah Tuhan yang luar biasa.
Bahwa manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa bukanlah untuk bermusuhan namun justru untuk saling mengenal satu dengan yang lainnya.

Banyak hal terlihat dalam kehidupan dan harmonisasi kehidupan sehari-hari, baik dalam lapangan usaha, politik maupun pemerintahan. Tak ada sekat yang justru hal ini akan memberi ruang gerak yang fleksibel bagi daerah untuk dapat berkembang dengan percepatan. Kehidupan yang saling menghormati dengan menjunjung kebersamaan dalam keberagaman tentunya harus terus dipertahankan, jangan sampai muncul benih benih perpecahan. TB melihat sendiri bagaimana rasa kebersamaan hadir dalam penduduk Pangkalpinang tanpa memandang asal dan etnis mana mereka berasal.

Dari hasil TB berbicara ringan di warung warung saat melancong ke Pangkalpinang dan Pulau Bangka, bahwa semua sudah terjadi turun temurun, bahkan dalam suatu keluarga terdapat beragam kepercayaan yang masing saling menghormati sehingga ikatan kekeluargaan tak retak oleh perbedaan, sungguh nikmat yang luar biasa. Ini modal dasar pembangunan pariwisata yang dapat dijual oleh Pangkalpinang tentunya, lewat wisata budaya yang mengedepankan kesatuan dalam perbedaan.

IMG_20160717_194215

Di sisi lain persatuan itu pun nampak dari kuliner khas Pangkalpinang dan Pulau Bangka, mulai dari makanan ringan otak-otak, kerupuk dan kempang, martabak bulan (hok lo pan) maupun lempa kuning merupakan makanan hasil olahan masyarakat fanngin dan thongngin yang diadopsi dan konsumsi oleh semua kalangan yang kemudian saat ini menjadi ikon kuliner khas Bangka yang sudah terkenal keseluruh pelosok nusantara. Wisata kuliner Pangkalpinang ini merupakan salah satu daya tarik yang mengunjungi Pangkalpinang berkali-kali namun tak pernah bosan.

Belum lagi keramahan warga Pangkalpinang entah fanngin maupun thongngin sangat terasa saat kita berbelanja, saat membeli oleh-oleh terlihat sikap yang bersahabat tidak ada rasa angkuh, hal ini belum TB temukan ditempat lain, warga fanngin begitu ramah dalam melayani pembeli tidak ada sikap canggung maupun curiga yang ada hanya sikap bersahabat dan semangat melayani terhadap pembeli tanpa pandang bulu.

Apa yang saat ini telah ada di Pangkalpinang merupakan contoh nyata sikap masyarakat yang saling menghargai dan menghormati serta selalu menjaga keutuhan dalam kehidupan bermasyarat. Semua tak terlepas dari kesadaran dari setiap individu dalam menjaga kerukunan dalam berkehidupan. Semboyan yang telah menjadi bahasa sehari-hari warga Kota Pangkalpinang khususnya dan pulau Bangka umumnya yaitu fanngin thongngin jit jong (keturunan dan pribumi adalah satu) bukan lah hanya retorika belaka namun sudah mendarah daging yang tentunya merupakan contoh nyata bagi daerah lain di Nusantara ini sehingga persatuan dan kesatuan Bangka tetap terjaga dan terpelihara.

Iklan

3 comments on “Ketika akulturasi menjadi sempurna : fanngin thongngin jit jong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s