Peluang CRF150L di Belitong

Oke Sobat Teras Belitong, CRF150L sudah hadir di Belitung dalam pengamatan TB, dalam event road show Honda Calon Rising Star ini sudah dipamerkan. Namun bagaimana peluangnya di Belitong apakah akan menjadi pilihan utama masyarakat Belitong yang menyukai kegiatan off road ataupun hanya sebagai pemanis saja dan menonton kesuksesan brand lain …??? Let See..!!!

lanjut membaca…

Iklan

CRF150L serupa tapi tak sama…!!!

Menarik bantahan dari AHM yang menyatakan bahwa mesin CRF150L beda dengan mesin Verza walau pun spesifikasi kasat mata yang tertulis sama antara kedua motor tersebut. Memang logika sederhana TB sih keduanya harusnya nggak mungkin menggunakan mesin yang sama pleg karena memang penggunaan berbeda, kalau pun ada bagian yang sama tentu harusnya tidak akan membuat performa motor menjadi menurun drastis saat dipergunakan di arena yang berbeda.

Nah informasi yang TB terima ada beberapa perbedaan yang tidak kasat mata atas kedua mesin motor tersebut, karena akan banyak digunakan di medan off road tentunya AHM melakukan beberapa penyesuaian untuk membuat durabilitas serta kenyamanan berkendara di medan off road terpenuhi.

“Mesin Honda Verza dan CRF150L itu berbeda dengan mesin Honda CRF 150L. Karena pengendara Honda CRF150L itu membutuhkan tenaga lebih dan sering ‘betot’ gas,” ujar Technical Service Division Astra Honda Motor (AHM), Sarwono Edhi di Bandung saat Fun Touring Honda CRF 2017. “Banyak perbedaannya, pistonnya beda, selain itu ada perlakuan berbeda hardner pada bagian dome-nya. Ini dikerasin supaya tahan, karena mesin Honda CRF150L kan sering stop and go,” katanya. “Kemudian crankshaft juga beda, balancing-nya juga beda. Transmisi sama, kopling sama, durasi cam yang berbeda. Silinder head beda, karena ada pegangan frame. Final ratio juga beda, CRF 49 gear belakang dan 15 di depan. Verza 14-42. Jadi lebih narik di bawah,” ujarnya.

Penjelasan dari sisi mesin oleh Bapak Sarwono Edhi diatas tentu cukup untuk menggambarkan perbedaan di sisi mesin CRF150L dibanding mesin saudara tuanya.
Kalau dari kasat mata sih udah kelihatan yahh, mulai dari spoke weel,upside down front fork, ban tahu serta material body untuk off road yang harus nya tahan atau lentur sehingga resiko pecah seperti body plastik akan menambah biaya produksi. Inti nya ada rupa ada harga.
Kalau saya sih lebih cenderung melihat bagaimana performa penggunaan di lapangan, kalau mesin nggak khawatir, tapi bagaimana dengan sasis dan body plastik hal ini perlu pembuktian, karena penggunaan off road tentunya tidak hanya sekali sekali saja namun berkesinambungan.
Waktu lah nantinya yang akan memperlihatkan durabilitas baik mesin maupun sasis CRF150L, kita tunggu saja…

Review : Jabra STEEL bluetooth headset, harga nggak bohong

Akhirnya saya pun membeli Jabra STEEL setelah sebelumnya beberapa kali ganti headset bluetooth namun nggak kunjung puas dengan performa, baik dari sisi kenyamanan maupun kualitas suara yang dihasilkan, kualitas suara yang diterima pihak lawan bicara, pilihan pun akhirnya TB ambil untuk meminang Jabra Steel dengan beberapa pertimbangan.

Aktivitas banyak diluar sehingga perlu yang sedikit hardcore lah he he, ketemu hujan, sering terjatuh supaya awet lah, nah jabra steel memenuhi dust, water and shock resistant. supreme call quality in rough environment merupakan bahasa marketing yang TB pertimbangkan, dan memang faktanya memang seperti itu TB merasakan sendiri performa Jabra steel yang ciamik. Standar IP54.

Desain simple pas di telinga juga menjadi alasan plus menjadi salah satu penentu dalam memilih jabra steel.
Yang terakhir harga, nih yah bikin nyesek juga tapi dari pada gonta ganti headset untuk mencari yang terbaik, mending beli satu cusss selesai. Ada harga ada rupa memang pepatah yang relatif benar. Sooo nggak salah deh kalau sob mau cari headset bluetooth berkualitas Jabra steel salah satunya.

Review Helm Zeus Z-380FA , openface helm bergaya retro

Helm Zeus seri ini adalah helm kedua yang saya beli sebelumnya saya membeli helm zeus 610 sama-sama openface helmet tetapi Z380FA bergaya retro. Impresi saya dengan helm Zeus ini sangat puas, karena dibandingkan dengan helm sekelas AGV dan KBC pun openface Zeus ini relatif lebih nyaman untuk kepala saya, mungkin karena kontur asia sehingga helm ini nyaman di kepala orang asia.

lanjut membaca…

Pertarungan tinggal di segmen sport

Pasar roda dua Indonesia sudah dapat dipastikan sudah didominasi oleh Honda, suka nggak suka Honda menyadari betapa pentingnya potensi pasar roda dua Indonesia, sehingga segala upaya terus mereka lakukan, pasar gemuk segmen matik berada dalam cengkraman Honda secara masif, potensi untuk lepas secara langsung akibat kelengahan Honda sulit untuk terjadi.

17YM CRF250 Rally

Pasar yang masih bergejolak apalagi kalau bukan segmen sport, lihat saja usaha masif Honda, merilis CBR250RR, merilis CRF250R, merilis CRF150L dan langkah-langkah selanjutnya berupa update produk yang sudah ada dipasaran. Hal ini jelas menunjukkan secara kasat mata, bahwa Honda merasa belum aman di segmen sport, belum semua lini mereka masuki, dan jelas potensinya masih bisa untuk menambah market share mereka.

Sayangnya pabrikan lain yang sedang diserang oleh Honda dan pabrikan lain yang memiliki potensi, masih asyik dengan rencana masing masing pabrikan. Usaha mendikte pasar masih sering dilakukan pabrikan yang relevansinya udah nggak relevan lagi di zaman NOW…!!! Langkah yang paling gampang melihat potensi adalah seperti yang dilakukan Honda, melihat segmen off on road mateng, masukkkk… lakukan ATM, A mati T iru M odiifikasi, nggak kreatif…??? Ukuran kreatifitas menurut TB bukan begitu, kalau berhasil menarik minat pasar dan laris manis, nahh itu yang dicari, jualan kok, dikatakan kreatif tapi nggak bisa laku ya percuma juga coiii…!!!

Segmen sport relatif sulit ditundukkan dengan strategi pada segmen matik, ya…!!! Sport punya loyalis nggak hanya sisi praktis, mengingat harga produk yang relatif lebih tinggi, dan kumpulan pertemanan melalui komunitas yang kuat brotherhoodnya, jelas membuat segmen sport nggak bisa instan dikuasai di saat ini. Contoh CBR250RR yang memang overall ok namun komunitas kompetitor udah lama, soo nggak bisa cepat lahh … perlu waktu… yang justru harus dikejar ya… new customer yang harus well educated sehingga bisa pilih produk yang memang lebih fresh dan baru.

Sama juga dengan usaha Honda masuk ke segmen off on road dengan CRF150L jelas nggak bisa cepat karena memang segmen ini sudah mateng dikuasai oleh Kawasaki, dengan komunitasnya jelas perlu waktu dan perjalanan yang relatif panjang untuk menguasainya. Yang pasti better support ke komunitas diperlukan oleh pabrikan untuk mengambil hati komunitas.

Seperti apa hasilnya, menarik yahh, TB selalu mengamati dan mencoba menganalisa kemungkinan kemungkinan yang terjadi bro, nantikan tulisan TB di blog ini terus yahhh…!!!

Kawasaki W175, upaya Kawasaki jadi first mover minim gangguan

Lho kok, yayyy begitulah kalau saya melihatnya, pertama kalau ngomongin first mover jelas Kawasaki merupakan barometer di Indonesia. Ninja 250 adalah legenda yang sampai saat ini masih mendominasi adalah bukti nyata kecerdikan Kawasaki melihat pasar Indonesia.

Kawasaki Way terus berlanjut setelah Ninja 250, diikuti KLX generation yang juga membuat pasar baru di segmen roda Indonesia. Karena potensi pasar dua genre ini pabrikan lain pun tertarik sehingga turut serta meramaikan, Yamaha dan Honda pastinya merasa kecolongan. Tetapi memang nggak mudah untuk menggeser penguasa eksisting. Namun jelas langkah pabrikan lain yang mengikuti adalah ancaman serius bagi Kawasaki. Kelemahan jaringan 3S yang sedikit pasti akan menjadi momok bagi konsumen yang selama ini telah menggunakan produk selalin Kawasaki, sehingga dengan masuknya pabrikan lain ke segmen yang sama, konsumen yang selama ini ragu dengan masuknya kedua pabrikan hilang ragunya. Terlebih Honda melihat segmen off on road KLX yang moncer tentunya nggak mau berlama-lama dengan segera memunculkan CRF150L

Nah kenapa TB berani nyebut kalau W175 adalah diferensiasi yang aman..!!! Sebenarnya ini juga nggak lepas dari basis mesin yang dibawa oleh W175 dengan kubikasi yang unik, jelas membuat perbedaan sendiri sehingga pabrikan yang lain tentu harus mikir ulang untuk membuat kubikasi yang sama, paling tidak perlu waktu mikir yang lama, buka apa-apa cost efisiensi adalah momok bagi pabrikan besar.
Pabrikan lain bisa saja bikin sport retro, tapi kemungkinan besar kubikasi yang akan ditawarkan diangka 150cc jelas ini mungkin pikiran jeli Kawasaki untuk mengamankan dari gangguan pabrikan lain yang mengekor gerakan mereka, keberanian menggunakan karburator di era injeksi pun menjadi menarik, karena apa…??? Motor ini akan menjadi incaran oprekan bengkel bengkel yang masih berkutat dengan teknologi karbu, sehingga ongkos oprek bisa ditekan untuk mendapatkan kenaikan performa dari sport retro ini.

Apakah prediksi TB tersebut benar, memang perlu waktu untuk mengujinya, karena dinamika pasar terus terjadi, namun satu yang pasti kehadiran Kawasaki W175 akan memberikan warna sendiri dipasar Indonesia, penyuka retro yang malas untuk modif atau kemahalan beli Estrella punya pilihan dengan harga yang lebih murah walau kubikasi lebih rendah.

CRF150L nambahin lini sport Honda

Hari ini 9 Nopember 2017 Honda meluncurkan jajaran produk All New CRF150L dengan semboyan “Take You to Off Fun Ride” diharapkan CRF150L nyaman digunakan untuk berkendara di jalan raya dan menaklukan berbagai rintangan. Yupss Honda memang selalu pengen mengkomunikasikan bahwa produk mereka memberikan kenyamanan saat berkendara, bukan sekedar big power, maupun fast saja, tetapi nyaman merupakan preferensi utama produk-produk sepeda motor Honda.

lanjut membaca…

Review : Pirelli Diablo Scooter salah satu pilihan tepat buat matik.

Cerita pengalaman mengganti ban standar pada beat pop, dari bawaan ban pabrik ke Pirelli Diablo Scooter, sebenarnya nggak mengharapkan banyak hal dengan ban Pirelli Diablo Scooter ini, hanya mengganti ban bawaan pabrik yang udah nggak berfungsi semestinya. Soo boyong Diablo Scooter, sepintas penampilan sih biasa aja, ulir ban pun menurut saya biasa saja secara kasat mata nothing special.

Namun ketika telah dipasang menggantikan ban standar ternyata feelnya terasa beda. Saat motor berjalan dengan kecepatan 70 km/jam on speedometer saya merasakan Pirelli Diablo Scooter memberikan feeling yang baik, sebagai rider saya merasa lebih yakin, gejala seperti ban tidak menyentuh aspal tidak dirasakan sehingga mengendarai skutik lebih nyaman.
Ban ini juga tubeless sehingga lebih memudahkan dalam perawatan. Soo sekian sharing dari saya Sob, sampai hari ini sudah hampir 2 Bulan menggunakan ban ini, dua jempol buat Pirelli Diablo Scooter.