2 Stroke Never Die

Penyuka speed freak tentu tidak akan pernah lupa dengan mesin 2 tak a.k.a 2 stroke yang memang sangat nikmat untuk diajak memacu adrenalin. Ketika regulasi emisi berbicara maka 2 Stoke mendapatkan imbasnya juga sehingga mau nggak mau pabrikan mesti melakukan reengenering agar mesin-mesin 2 stroke mereka mampu mengikuti standar yang berlaku, atau juga melakukan transisi produk dari 2 stroke ke 4 stroke.

lanjut…

Akankahhh nasib Ninja 150 menjadi seperti Yamaha RX-King

Pencipta kecepatan tentu sangat kenal dengan dua motor besutan Yamaha dan Kawasaki ini, RX-King adalah legenda abadi speed lover 2 tak dari Yamaha.

RX-King adalah salah satu andalan Yamaha pada era dua langkah. Ketika era 4 tak dimulai RX-King pun memberi kontribusi yang cukup baik pada awal era 4 tak dan berlanjut sampai kira-kira tahun 2009.

Sumber http://edorusyanto.wordpress.com

Baca Selanjutnya…

Saran buat AHM – Biarkan Diler memajang dan jualan CBR 250R

Mengacu pada tulisan di detikOto maka sebenar bukan lah kekalahan telak motor satu silinder lawan motor dua silinder (IMHO), kenapa ???? Karena ada weakness yang bisa jadi tidak disadari oleh AHM sendiri dalam jualan CBR250 R.

sumber http://detikoto.detik.com

AHM mesti mengubah pola pikir untuk kelas sport ini, karena CBR250R tidak bisa diperlakukan seperti PCX, jika PCX hanya akan menarik kalangan mapan karena desain elegan dan kubikasi kecil, sedang CBR250R akan menarik semua golongan dari bawah sampai atas, karena motor sport kubikasi diatas 250cc akan membentuk mindset yang berbeda dengan PCX yang berkubikasi 125cc.

Kalau lah dilakukan survei sederhana, dengan memberikan dua pilihan antara CBR250R dengan PCX 125 kesemua strata konsumen maka dapat diprediksi bahwa CBR250R akan lebih banyak dipilih ketimbang dengan PCX. Sehingga sebenarnya nggak matching jika strategi penjualan PCX diberlakukan juga ke CBR250R, dan inilah salah satu penyebab keoknya Duo CBR 250R terhadap Ninja 250R

- Mau Beli tapi Mesti Indent

Segment Sport 250 bukan hanya milik kota besar, tetapi juga mempunyai ceruk pasar di kota-kota kecil, jika AHM belajar dari kasus Ninja 250R maka akan terlihat bahwa Kawasaki menyiapkan semua lini sport mereka di seluruh jaringan diler, sehingga unit terpajang rapi di diler yang akan sangat berpengaruh terhadap pandangan konsumen terhadap produk, jika ada unit maka akan muncul keinginan untuk membeli karena boleh dikatakan segmen 250 adalah segmen yang tentunya sempit untuk itu karena sempit perlu kejelian untuk melihatnya, Kawasaki cukup jeli dengan membiarkan unit terpajang disemua dilernya, sehingga pembeli dapat langsung membeli tanpa harus indent terlebih dahulu.

Ada hal  juga yang mesti AHM sadari jika ingin jualan pada konsumen di daerah yaitu rasa gengsi yang cukup tinggi, gengsi dalam artian apa??? Ilustrasi nya begini, jika di daerah maka kepercayaan itu adalah hal yang diagung-agungkan sehingga apabila seseorang yang punya kemampuan beli tetapi ketika hendak membeli diminta untuk inden dan memberikan DP, maka akan muncul kalimat sinis…!!! Anda PERCAYA nggak sih sama SAYA !!!! Selanjutnya bisa ditebak calon konsumen akan lari keproduk sebelah yang notabene telah ready dan siap diangkut kerumah…!!!

Nah disinilah potensi LOST yang tidak disadari oleh AHM, karena dalam hasil INTERAKSI saya dengan beberapa calon pembeli, kebanyakan pembatalan pembelian adalah karena mesti bayar DP untuk indent, bukan karena mereka tidak ada duit, tetapi ada faktor ketersinggungan yang membuat keputusan membeli menjadi pupus..!!! Ini dapat segera sebenarnya direcovery oleh AHM dengan mengijin diler didaerah, misalkan saja perpanjangan dari Main diler untuk lokasi propinsi setempat memajang produk flagship Honda ini, gunanya untuk apa ??? Ya sederhana saja untuk meminimalisasi potensi LOST terhadap rencana konsumen untuk membeli CBR250R.

Jika hal ini dapat dilakukan AHM maka IMHO penjualan CBR250R akan menjadi lebih Moncerrr dibandingkan saat ini, paling tindak dapat dengan mudah mengalahkan Ninja250.

Just My Simple Opinion

Brand Ambassador cara cepat memperkenalkan Produk

Kalau idola Pake gue juga Pake, kurang lebih begitulah kebanyakan konsumen Indonesia terutama anak muda dalam memilih berbagai macam produk. Nah habit seperti itu di baca oleh ATPM Roda Dua di Indonesia. Lihat saja, mulai dari Artis, sampai Olahragawan menjadi duta merek a.k.a brand ambasador produk R2 yang mereka miliki.

Hayate dengan Irfan Bachdim, Komeng dengan Jupiter Z, Nidji dengan Absolute Revonya, Bambang Pamungkas dengan TVS Apachenya

Penggunaan ikon atau Brand Ambassador tidak lain adalah untuk melakukan pengenalan produk secara cepattt dengan nebeng pada ketenaran sang ikon, dan diharapkan dengan identiknya ikon dengan produk yang dimiliki oleh ATPM membuat setiap orang yang melihat ikon tersebut akan mengingat produk yang dimiliki oleh ATPM.

Semakin sering sang Duta Produk tampil di depan khalayak ramai, maka semakin sering konotasi akan brand muncul mengiringi sang ikon. Contoh sederhana dampak dari Brand Ambasador antara lain, Keponakan saya usia lima tahun jika melihat Andre Stinky di OVJ diselalu ngomong “ini motornya yang Axelo itu lho Om” nah ini awal untuk memoncerkan penjualan produk, walau memang tidak semerta-merta produk yang begitu dikenal akan memoncerkan penjualan namun tetap penting menanamkan Brand awarness kepada segenap lapisan masyarakat.

Just My Simple Opinion

Ngelawan CBR250R bukan dengan Harga

Begitu bulan ke-2 diluncurkan (CMIIW) langsung saja penjualan CBr250R mengkudeta singasana Ninja250R yang selama ini bermain sendirian disegmen 250 cc, sungguh singkat waktunya, apakah ini hanya spikes, memang waktu yang membuktikannya apakah CBR 250R adalah raja baru disegmen 250 cc

Terlepas dari semua itu, tentu tidak ada salahnya  pihak KMI melakukan evaluasi terhadap mesin perang mereka, apakah sudah cukup amunisi untuk menghadapi jagoan Honda tersebut.

Secara teknis tentu saja semua orang telah tahu bahwa Ninja250R lebih superior dari CBR 250R, pertanyaannya kenapa langsung KO begitu bulan ke-2 peluncuran CBR 250R di Indonesia. Nah tentu ada hal yang perlu diperbaiki oleh pihak KMI untuk melanjutkan peperangan ini sehingga paling tidak bisa mempertahankan tingkat penjualan yang ada atau bahkan tetapi digdaya di kelasnya ini.

1. Facelift Hukumnya Wajib

Saya memilih CBR250R karena tampilannya lebih fresh, seger gitu lho…  makanya Wajib KMI memperbaiki tampilan Ninja250R ini sehingga lebih segar dan enak dipandang mata, dan sepanjang pengetahuan saya dari awal dikenalkan kepasaran hingga sekarang tampilannya belum mengalami perubahan sama sekali. Ada banyak acuan tampilan yang dapat diadopsi sehingga Ninja 250R kembali terlihat seger

Mungkin pihak KMI dapat mengambil dari Legendnya Kawasaki entah ZX6, ZX10 sehingga seolah-olah Ninja250R adalah babynya (KMI lebih tau laghhh).

Tampilan selanjutnya yang perlu diperbaharui adalah Speedometer, tiap hari biker yang menggunakan Ninja250R atau CBR250R akan bertemu dan menatap nih alat, tentu akan beda kesannya jika melihat speedometer CBR250R dan Ninja250R, coba kita lihat speedometer CBR250r berikut ini :

Coba kita bandingkan dengan Speedometer Ninja250R saat ini :

Kerasa bangetkan aura CBR250R lebih mantab dibandingkan dengan aura spedometer Ninja250R

2. Buat Dua Varian

Yups … memang harus ada dua Varian tetapi beda dengan varian yang dilakukan oleh Honda, jika Honda CBR250R dibedakan dengan sistem pengereman yaitu adanya penerapan C-ABS, trus Ninja250R harus bermain dimana? Main di rem juga?? Nggak lagghh, IMHO mesti dibuat dua versi Ninja250R satu menggunakan sistem pengkabutan Injeksi dan satu lagi seperti yang lama tetap menggunakan Kaburator, sehingga dua segmen langsung terpenuhi, penyuka speed akan memilih karburator, sedangkan yang penyuka kepraktisan akan memilih sistem Injeksi.

3. Skema Harga

Jika Kawasaki Australia kebakaran jenggot dengan hadirnya Honda CBR250R sehingga menurunkan harga sebesar AUD 1500 (di blog kang Taufik) maka buat Kawasaki Indonesia JANGAN PERNAH TERPANCING MAIN HARGA  dengan Honda, nggak bakal menang… Jika Honda dengan dua varian dengan skema harga 40 jt dan 46.5 jt maka jika KMI mengeluarkan dua varian seperti saran saya diatas, maka skema harganya untuk ninja250R menjadi dua versi misalkan saja di versi Low end seharga 43,9 jt dan High end nya seharga 47,9jt.

KMI mesti bergerak cepat kalau nggak mau seperti nasib skutik Yamaha yang telah nyata terkudeta oleh pasukan skutik Honda.

Just My Simple Opinion

Kenapa di Kelas 250 cc first Mover mudah saja dilibas

Weeww melihat data penjualan CBR 250R bulan maret 2011 di blognya mbah edo tentunya  menimbulkan pertanyaan, walaupun data baru sebulan namun sinyalemen ini tidak bisa didiamkan karena adalah data awal tanda-tanda kedigdayaan CBR 250 R di kelas motor Batang 250 cc. Baiklah sebenarnya hal ini sudah dapat diprediksi dari awal gaung CBR 250R terdengar di jagad R2 Indonesia. Ada hal spesial yang membedakan Konsumen dikelas ini.

-Konsumen NAIK KELAS, rata-rata tipikal konsumen semi premium ini adalah konsumen yang naik kelas kubikasi motornya sehingga sudah memiliki pengetahuan teknis mengenai motor setidaknya, dan lebih paham dengan komponen price over value dengan paham tersebut maka nilai-nilai logikalah yang menjadi pertimbangan bukan mengacu kepada seberapa gencar ATPM memperkenalkan produknya, contoh sederhana adalah saya pribadi, saya sekarang menggunakan Megapro lama 160 cc dan sudah indent CBR 250R Non ABS, pertimbangan membeli CBR tipe non ABS adalah beberapa riview blogger seperti Mbah Dukun, Wak Haji Taufik sehingga lahirlah keputusan tersebut. Jadi Intinya, Konsumen di kelas ini sudah cerdas dan pandai memilih sehingga ATPM pun harus dapat menyediakan produk yang benar-benar mengena dengan keinginan Konsumen, gak asal kencang dan gak over PD dengan produk yang mereka miliki yang memang lebih superior dan pendatang baru di beberapa sisi, tetapi tidak mempertimbangkan intangible value produk baru, sehingga karena over PD kelibassss dah :-D :-D .

Gambar tmcblog.com

- Walaupun Pemain Lama harus tetap FRESHHHH, nah dari sisi Produk, walaupun produk duluan hadir, bukan berarti nggak melakukan perubahan, karena kalau kata-kata bijak yang pernah saya dengan bahwa “hanya perubahan yang abadi” sehingga disetiap aspek kehidupan selalu ada perubahan, selalu ada penyempurnaan, nah ketika tidak mau berubah waktu yang akan merubahnya, inilah yang terjadi di kelas 250 cc, setelah sekian lama digdaya dengan bermain sendirian tanpa mau atau melihat apa suara konsumen maka kehadiran pemain baru yang lebih segar, smart dan memiliki berbagai macam kelebihan yang boleh dikatakan intangible maka dengan mudah produk lama tertinggalkan dan jika tidak segera berubah akan ditinggalkan, solusinya cuma satu segera mengubah diri, dan memberikan nilai lebih, karena ceruk ini sangat lah sempit dan Anda menghadapi RAKSASA, cerdas… cerdas dan harus cerdas…..

Just My Simple Opinion

Di kelas Sport 250 cc, Yamaha santaiiiii aja.

Well seperti nya Tahun 2011 adalah kancah dimulainya perang disegment motor sport 250 cc, hadir nya dua jagoan baru dari Honda dan Hyosung membuat kelas seperempat liter yang semula hanya dihuni oleh Kawasaki Ninja 250 menjadi lebih ramai dan tentunya kompetitif. Tentu hal ini membuat kita konsumen lebih memiliki pilihan yang sesuai dan pas dengan selera masing-masing.

Kalau Kawasaki, Honda, Hyosung mulai bermain kemana Yamaha dan Suzuki ??? Padahal kedua-duanya sudah ada Jagoannya masing-masing, yang secara kubikasi sama tetapi secara tampilan beda.

Baik lah IMHO memang Yamaha terutama tidak untuk bermain terlebih dahulu di kelas 250 cc, yang memang secara finansial hasilnya tidak terlalu  besar dan juga pasar ini adalah pasar yang cukup cerdas dimana konsumennya adalah upgrade-an alias naik kelas, umumnya sihh dari kelas 150 cc-an entah vixi. meggy ataupun thunder 125 dan motor batang yang setipe..

Sooo sederhananya dikelas ini first mover nggak bakalan terlalu signifikan efeknya, karena pada kelas ini konsumen sudah cukup cerdas dalam memilih, yang terpenting justru pada kelas ini adalah valuabel dari produk tersebut, apakah sesuai dengan harga yang di berikan.

Jadi Yamaha cukup menonton ajahh dulu, sambil menyaksikan pertempuran tiga pemain yang telah ada, membaca setiap peluang dan mengamati celah yang dapat diisi, sehingga jualan dikelas ini saat ikut terjun ke arena jadi moncerrr  dan memberikan image yang kuat di benak pelanggan terhadap produk Yamaha pada kelas seperempat liter.

Oke Yamaha Be Smart